Decision is prayer



Sejatinya keputusan itu datang didampingi dengan pilihan, namun apakah setiap keputusan yang kita ambil merupakan pilihan yang terbaik? Belum tentu, kita masih tetap harus menjalani sebuah keputusan yang kita pilih itu dengan konsisten, memiliki komitmen, dan menghargai apa yang kita jalani.

Semua orang mungkin pernah mengalami titik terendah dalam hidup, dan aku pun merasakan hal itu bahkan sebelum mencobanya.

Tahun 2012 tepatnya, aku dipaksa menjalani apa yang bukan pilihanku. Sedih? Of course, bahkan lebih dari itu, sempat marah, kecewa bahkan stress karena aku harus mengubur jauh-jauh keinginanku melanjutkan kuliah seperti teman-temanku yang lain, aku harus mulai menata masa depan yang Tuhan gariskan kepadaku.



Ya, aku memutuskan untuk bekerja pada saat itu, karena merasa tidak ada pilihan lain, dan niatku memang untuk mengumpulkan tabungan yang kelak aku gunakan untuk melanjutkan kuliah seperti teman-temanku.



Ternyata Tuhan sangat baik kepadaku, meskipun lewat tanteku, adik dari mama, aku bisa langsung mendapatkan pekerjaan padahal ijazah saja aku belum dapatkan. Pekerjaan pertamaku sebagai pramuniaga di salah satu toko baju di Bandung.

Aku yang sama sekali belum memiliki pengalaman bekerja, terkadang merasa lelah dan ingin menyudahi pekerjaan itu, namun lagi-lagi Tuhan memiliki rencana terbaiknya untukku.


Dua bulan setelah aku bekerja disana, aku mencoba melamar pekerjaan lain yang memungkinkan aku untuk menabung lebih banyak lagi. Diterima sebagai staff kasir di salah satu perusahaan retail ternama, dan tepat menginjak 7 bulan aku bekerja disana, aku bisa mendaftar sebagai mahasiswi di salah satu Universitas di Bandung. 

Bahkan bukan hanya bisa melanjutkan kuliah seperti yang aku impikan, Tuhan memberi banyak dan sangat banyak kepadaku selain itu. 

Saat aku memutuskan untuk resign karena sulit membagi waktu bekerja dengan sistem shift lalu aku sambung dengan kuliah pun, lagi dan lagi Tuhan beri aku kemudahan dengan pekerjaan baru yang membuat aku bisa fokus bekerja dan fokus juga kuliah, aku diterima sebagai staff administrasi online di sebuah usaha bidang makanan. 

Dan hari itu, tepatnya 14 Desember 2017, aku berhasil menyelesaikannya..
Salah satu pencapaian besar dalam hidupku, aku sarjana dengan uangku sendiri dan membuat kedua orangtuaku bangga akan hal itu. 

Namun sempat lagi, aku yang kurang bersyukur ini menganggap keputusan yang aku jalani sebelumnya itu sia-sia, karena  setelah lulus aku merasa kehidupanku itu malah makin sulit, sudah mengikuti jobfair sana sini dan hasilnya nihil, bahkan ditambah minder saat berkumpul dengan keluarga atau teman karena pasti pertanyaan yang muncul pertama kali adalah, "Sekarang kerja dimana?" 

Pertanyaan itu kerap membuat aku malas untuk bertemu banyak orang-orang disekelilingku, aku pun sempat berburuk sangka lagi pada Tuhan
"kenapa malah setelah lulus menjadi sangat sulit bagiku mendapat pekerjaan?"
"kenapa lebih mudah bekerja dengan ijazah sebelumnya?" 

Dan lagi-lagi Tuhan masih saja menunjukan kebaikannya padaku, pesan masuk kedalam telepon genggamku, 
ternyata test pada salah satu perusahaan ternama di bidang Farmasi, yang bahkan aku sendiri tidak ingat kapan aku melamar pekerjaan disana. Jujur aku tidak berharap banyak, hanya berusaha melakukan yang terbaik dan mengingat salah satu kata-kata sahabatku, "Kalau aku lolos, berarti Tuhan percaya aku bisa melakukan pekerjaan ini, tapi jika tidak akan ada yang lebih baik diluar sana".

Tuhan pun menjawab, aku berhasil bekerja di perusahaan tersebut, jarak yang dekat dengan antara rumah dan kantor memungkinkan aku pulang cepat dan memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dan orang yang ku sayangi.

Selalu ingat, Tuhan pasti tahu pilhan yang terbaik untuk hambaNya, sedangkan kita tidak. 


“. . Tetapi boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh Jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. 
(Al Baqarah, 216).



Love Regards,

Serly Marlina



Komentar